Gladiator07's Blog
Just another WordPress.com weblog

Ketika Cinta Bertasbih 2


KETIKA CINTA BERTASBIH
 
PAGI BERTASBIH
DI DESA WANGEN
Langit dini hari selalu memikatnya. Bahkan sejak ia
masih kanak-kanak. Bintang yang berkilauan di matanya
tampak seumpama mata ribuan malaikat yang mengintip
penduduk bumi. Bulan terasa begitu anggun menciptakan
kedamaian di dalam hati. Ia tak bisa melewatkan pesona
ayat-ayat kauni yang maha indah itu begitu saja.
Sejak kecil Abahnya sudah sering membangunkannya
jam tiga pagi. Abah menggendong dan mengajaknya
menikmati keindahan surgawi. Keindahan pesona langit,
bintang gemintang, dan bulan yang sedemikian fitri.
"Di atas sana ada jutaan malaikat yang sedang
bertasbih." Begitu kata Abahnya yang tak lain adalah Kiai
Lutfi sambil menggendongnya. Ia tidak mungkin
melupakannya.

"Jutaan malaikat itu mendoakan penduduk bumi yang
tidak lalai. Penduduk bumi yang mau tahajjud saat jutaan
manusia terlelap lalai." Sambung Abah sambil membawanya
ke masjid pesantren.
Abah lalu mengajaknya untuk akrab dengan dinginnya
mata air desa Wangen. Setelah mengambil air wudhu,
Abah mengajaknya keliling pesantren, mengetok kamar
demi kamar sambil berkata, "Shalat, shalat, shalat!" Setelah
semua kamar diketuk, sang Abah mengajaknya kembali
ke masjid untuk shalat. Beberapa orang santri ada yang
sudah shalat. Ada yang masih mendengur berselimut
sarung.
Setelah shalat sebelas rakaat Abah mengajaknya berdoa.
"Ayo Nduk, kita berdoa biar diamini jutaan malaikat."
Dan tatkala fajar merekah kemerahan di sebelah timur,
Abah bertasbih dan mengajaknya menikmati keindahan
yang menggetarkan itu. Lalu dengan menggendongnya
kembali, Abah mengajaknya keliling pesantren untuk
kedua kalinya. Kali ini Abah membangunkan para santri
dengan suara lebih keras, dengan nada sedikit berbeda,
"Subuh, subuh, shalat! Subuh, subuh, shalat!"
Lalu azan subuh berkumandang.
Azan subuh selalu menggetarkan kalbunya. Alam
seperti bersahut-sahutan mengagungkan asma Allah. Fajar
yang merekah selalu mengalirkan ke dalam hatinya rasa
takjub luar biasa kepada Dzat yang menciptakannya.
Setiap kali fajar itu merekah ia rasakan nuansanya tak
pernah sama. Setiap kali merekah selalu ada semburat
yang baru. Ada keindahan baru. Keindahan yang berbeda
dari fajar hari-hari yang telah lalu. Rasanya tak ada
sastrawan yang mampu mendetilkan keindahan panorama
itu dengan bahasa pena. Tak ada pelukis yang mampu
melukiskan keindahan itu dalam kanvasnya. Tak ada!
Keindahan itu bisa dirasakan, dinikmati dan dihayati
8
dengan sempurna oleh syaraf-syaraf jiwa orang-orang yang
tidak lalai akan keagungan Tuhannya.
Langit dini hari selalu memikatnya. Bahkan sejak ia
masih kanak-kanak. Azan subuh selalu menggetarkan
kalbunya. Dan fajar yang merekah selalu mengalirkan
kedalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat yang
menciptakannya.
Anna berdiri di depan jendela kamarnya yang ia buka
lebar-lebar. Ia memandangi langit. Menikmati fajar. Dan
menghayati tasbih alam desa Wangen pagi itu. Dengan
dibalut mukena putihnya ia menikmati keindahannya dari
jendela kamarnya. Ia hirup dalam-dalam aromanya yang
khas. Aroma yang sama dengan aroma yang ia rasakan
saat ia kecil dulu. Tidak jauh berbeda. Aroma daun padi
dari persawahan di barat desa. Goresan yang indah
bernuansa surgawi. Angin pagi yang mengalir sejuk
menyapa rerumputan yang bergoyang-goyang seolah
bersembahyang.
Di kejauhan beberapa penduduk desa sudah ada yang
bergerak. Ada rombongan ibu-ibu yang mengayun sepeda
membawa dagangan di boncengan. Mereka menuju pasar
Tegalgondo. Biasanya mereka shalat subuh di sana sebelum
menjajakan dangangan mereka. Penduduk Pesantren
Daarul Quran, baik yang putra maupun yang putri
sebagian besar telah bangun dan bersiap untuk shalat
subuh. Kiai Lutfi, pengasuh utama Pesantren Daarul Quran
sudah shalat sunnah fajar di masjid.
Anna shalat sunnah dua rakaat lalu beranjak ke masjid.
Masjid pesantren yang terletak di tengah-tengah desa
Wangen, Polanharjo, Klaten itu kini jauh lebih megah dari
waktu ia masih kecil dulu. Dulu masjid pesantren itu
berdinding papan dan lantainya ubin kasar. Hanya muat
untuk dua ratusan orang saja. Saat itu jumlah santri baru
seratus tujuh puluh. Semuanya putra. Karena memang
belum membuka pesantren putri. Sekarang masjid itu
9
sudah mampu menampung seribu lima ratus orang. Dua
lantai. Lantai bawah untuk santri putra dan lantai atas
untuk santri putri. Jumlah santri sudah mencapai seribu
tiga ratus. Delapan ratus untuk santri putra dan lima ratus
untuk santri putri.
Lantai atas masjid itu putih. Penuh oleh santriwati
berbalut mukena putih. Mereka seumpama bidadaribidadari
yang turun ke bumi bersama para malaikat pagi.
Sebagian sedang shalat sunnah. Sebagian duduk membaca
Al Quran. Sebagian yang lain duduk sambil berzikir. Anna
shalat tahiyyatul masjid di tengah-tengah mereka. Jika para
bidadari memiliki ratu, maka Anna Althafunnisa-lah
ratunya para bidadari yang mengagungkan asma Allah di
masjid itu.
Iqamat dikumandangkan.
Semua berdiri serentak. Shaf ditata seperti barisan
pasukan yang siap berperang. Kiai Lutfi merapikan shaf
dengan sabar. Ia sangat perhatian mengatur shaf. Lalu
takbiratul ihram menggema di masjid itu. Semua jamaah
mengumandangkan takbir bersama. Mengagungkan asma
Allah. Masjid itu lalu menyatu bersama alam yang
mengagungkan asma Allah pagi itu.
Usai shalat subuh dan berzikir. Kiai Lutfi mengajak
santrinya untuk melantunkan zikir pagi. Lalu beliau
membacakan kitab Subulus Salam karya Imam Ash Shan'ani
yang merupakan penjelas kitab Bulughul Maram yang
disusun oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani. Subulus Salam
adalah satu dari tiga kitab yang menjadi wirid Kiai Lutfi.
Artinya kitab itu adalah salah satu kitab yang senantiasa
dibaca berulang-ulang oleh Kiai Lutfi. Kitab kedua adalah
kitab Tafsir Jalalain yang disusun oleh Imam Jalaluddin As
Suyuthi dan Imam Jalaluddin Al Mahalli. Kitab ketiga adalah
Al Hikam yang ditulis Imam Ibnu Athaillah As Sakandari.
Subulus Salam dan Tafsir Jalalain dibaca dan dijelaskan
kandungannya panjang lebar oleh Kiai Lutfi setiap hari.
10
Dan semua santri wajib mengikutinya. Subulus Salam
dibaca setelah shalat subuh dan Tafsir Jalalain setelah shalat
maghrib. Sementara kitab Al Hikam dibacakan setiap Rabu
bakda Ashar untuk masyarakat umum.
Sudah jamak di dunia pesantren bahwa seorang Kiai
biasanya memiliki kitab-kitab andalan yang sangat dia
kuasai dan ia ajarkan kepada santrinya. Kitab itu jadi
wiridnya. Sehingga ia seolah-olah hafal kitab itu. Dengan
melihat kitab yang dijadikan wirid maka para santri dan
masyarakat bisa mengetahui kepakaran seorang Kiai.
Misalnya Kiai Lutfi setiap hari mengajarkan Subulus Salam
dan Tafsir jalalain, maka beliau adalah pakar di bidang
fiqh dan hadis, juga pakar di bidang tafsir. Penguasaan
beliau dalam ketiga bidang itu sangat mendalam. Bukan
berarti Kiai Lutfi tidak menguasai ilmu nahwu, ilmu tata
bahasa Arab. Bukan. Beliau juga menguasai ilmu itu. Tapi
kecenderungan dan kepakaran beliau di bidang itu.
Contoh lain misalnya Kiai Rasyidi biasa mengajarkan
kitab Qira'atur Rasyidah di Pesantren As Salam Pabelan.
Itu karena beliau di kalangan ulama karesidenan Surakarta
dikenal sebagai pakar bahasa Arab. Beliau lulusan Al Azhar
yang sudah belasan tahun hidup di Mesir. Beliau juga
sangat menguasai ilmu fiqh dan disiplin ilmu lainnya.
Namun beliau memiliki kecenderungan untuk mendalami
dan mengajarkan bahasa Arab kepada para santrinya.
Lain lagi dengan Almarhum Kiai Ali Darokah, ulama
Surakarta jebolan Mambaul Ulum yang legendaris. Beliau
juga menjadi guru para ulama di Surakarta .dan sekitarnya,
dikenal sebagai ulama yang memiliki kepakaran di bidang
ilmu fiqh dan ushul fiqh.
Sementara Kiai Salman Popongan cenderung pada
ilmu tasawuf. Maka kitab yang menjadi wiridan beliau,
konon, adalah kitab-kitab tasawuf seperti kitab Al Hikamnya
Imam Ibnu Athaillah As Sakandari dan kitab Ihya'
Ulumuddin-nya Imam Al Ghazali.
11
Di Sukoharjo, Kiai Ahmad Husnan dikenal sebagai
ulama yang pakar dalam takhrij hadits. Maka kitab-kitab
yang beliau bahas dan beliau uraikan kepada para santrinya
di Pesantren Al Mukmin adalah kitab-kitab hadis dan ilmu
hadis seperti Kutubus Sittah. Beliau bahkan banyak menulis
buku dalam bidang hadis.
Di Jogjakarta, ada ulama yang dikenal sangat pakar di
bidang Ushul Fiqh dan Fiqh. Kepakarannya bahkan masyhur
sampai Asia Tenggara. Beliau adalah almarhum Kiai Haji
Ali Maksum, Pengasuh Pesantren Al Munawwir Krapyak.
Maka di antara kitab yang menjadi wirid beliau adalah kitab
Asybah Wan Nadhair, Fathul Mu'in dan Fathul Wahab.
Pagi itu Kiai Lutfi membacakan dan menguraikan
hadis yang berbunyi, "Laa yadhulul jannata qattaatun!"
Semua santri, baik putra dan putri mendengarkan dengan
khidmat dan rasa ingin tahu. Kiai Lutfi lalu menjelaskan
arti dan maksud hadis pendek itu,
"Anak-anakku semuanya yang aku sayangi,
Hadis pendek ini muttafaq 'alaih, artinya diriwayatkan
oleh Imam Bukhari dan Muslim. Jelas shahihnya. Tidak bisa
diragukan. Arti dari hadis ini adalah,'Tidak akan masuk surga
orang yang suka memfitnah.
Imam Shan'ani menjelaskan, kata "qattat" itu dengan
huruf qaf, huruf ta' dan sesudah alif huruf ta' lagi, yang
berarti pemfitnah. Ada ulama yang berkata, ada perbedaan
antara "qattaat" dan "nammaam".
Nammaam ialah orang yang mencari berita untuk
menyampaikannya kepada orang lain (untuk menebar fitnah).
Sedangkan "qattaat" adalah orang yang hanya mendengar
berita yang ia tidak mengetahui pasti kebenaran berita itu,
kemudian ia menceritakan apa yang ia dengar itu (kepada
orang lain untuk memfitnah).
Hakekat fitnah itu pemindahan pembicaraan orang
kepada orang lain untuk merusak hubungan di antara mereka.
12
Anak-anakku, ingatlah baik-baik kadis ini. Hayati dan
patri dalam sanubari! Jangan sekali-kali kalian menjadi
seorang pemfitnah, baik qattaat maupun nammaam. Sebab
pemfitnah itu telah diharamkan oleh Rasulullah Saw. untuk
masuk surga. Pemfitnah termasuk seburuk-buruk makhluk
Allah di atas muka bumi ini. Al Hafidz Al Mundziri
mengatakan, Ummat Islam sudah sepakat bahwa fitnah itu
diharamkan dan fitnah itu termasuk dosa besar!"
Lalu Kiai Lutfi terus membacakan isi kitab Subulus
Salam itu dan menjelaskan panjang lebar dengan penuh
rasa kasih sayang dan cinta kepada santri-santrinya. Setelah
setengah jam membacakan Subulus Salam, Kiai Lutfi
menutup kajian pagi hari itu dengan hamdalah. Para santri
bubar kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap menyambut
aktifitas pesantren yang lebih padat. Kiai Lutfi biasanya
tetap iktikaf di masjid sampai kira-kira jam delapan.
* * *
Anna kembali ke kamarnya. Ia mempersiapkan diri
menghadapi salah satu hari yang sangat bersejarah dalam
hidupnya. Nanti sore keluarga Furqan dari Jakarta akan
datang untuk melamarnya. Kemarin sore Furqan
mengirim sms bahwa dia dan keluarganya sudah sampai
di Solo, saat ini mereka menginap di hotel Lor Inn Solo.
Tanpa ia pinta, ingatannya kembali berputar bagaimana
ia mengiyakan lamaran Furqan. Bulan April ia meninggalkan
Cairo. Saat itu konsentrasinya adalah penelitian di
Malaysia untuk tesisnya tentang "Asuransi Syari'ah di Asia
Tenggara." Ia belum memberi jawaban atas lamaran Furqan
yang diajukan lewat Ustadz Mujab.
Ada dua minggu lamanya ia mengadakan penelitian
di perpustakaan Universiti Malaya, ISTAC, HUM dan
Universiti Kebangsaan Malaysia. Ia lebih banyak mengcopy
data-data dan rujukan-rujukan penting. Lalu ia pulang ke
Indonesia. Kerinduannya pada Abah dan Umminya, juga
13
pada aroma desa Wangen sudah sedemikian membuncah
di dada.
Ia masih ingat betul, selama satu minggu di rumah ia
belum membicarakan perihal lamaran Furqan pada kedua
orang ruanya. Ia masih bimbang dan ragu. Dan tepat satu
minggu setelah menghirup udara Wangen, suatu pagi ia
diajak bicara serius oleh Abahnya. Saat itu ia sedang
mengerjakan tesisnya di ruang perpustakaan Abahnya.
"Nduk, aku ingin bicara sebentar denganmu bisa?" Kata
Abahnya, dengan wajah serius.
"Inggih, bisa Abah." Jawabnya sambil menghadapkan
seluruh wajahnya pada sang Abah.
"Begini, Nduk, Abah rasa kamu harus segera menikah.
Kamu harus segera memutuskan siapa yang kamu pilih
untuk menjadi pendamping hidupmu. Jika Abah hitung,
dua tahun ini sudah enam kali engkau menolak lamaran.
Dan lamaran itu datangnya tidak dari orang sembarangan.
Abah dan Ummimu sudah tidak sanggup lagi untuk terus
menolak lamaran yang datang. Abah ingin menyampaikan
padamu, tadi malam ada seseorang yang datang lagi untuk
melamarmu. Abah kenal baik dengannya. Dan Abah
percaya padanya. Ummimu juga. Dia dulu juga santri di
pesantren ini. Tapi keputusan ada di tanganmu, Nduk.
Sebab engkau sudah besar, sudah sangat berpendidikan."
Ana sedikit terperanjat. Ia jadi penasaran siapa santri
itu?
"Pernah nyantri di sini Bah?"
"Iya."
"Siapa dia Bah? Apa aku mengenalnya?"
"Mungkin saja."
"Namanya siapa Bah?"
"Muhammad Ilyas."
"Muhammad Ilyas yang mana ya Bah?"
14
"Yang tinggi kurus, agak hitam."
Anna mencoba mengingat beberapa santri yang ia
kenal. Ia tidak memiliki bayangan. Ia memang tidak
banyak mengenal para santri putra yang seusianya, atau
sedikit di atasnya. Sebab begitu lulus SD ia langsung
dibuang ayahnya untuk belajar di Kudus. Tiga tahun di
Kudus, ia lalu melanjutkan belajar di MAPK Putri Ciamis.
Saat di Madrasah Aliyah itulah ia sempat mengikuti
pertukaran pelajar ke Wales, U.K. Begitu selesai Aliyah ia
langsung terbang ke Mesir. Jadi nyaris ia tidak banyak
berinteraksi dengan santri-santri Abahnya. Baik yang putra
maupun putri.
"Wah, saya tidak mengenalnya Bah." Kata Anna pelan.
"Ilyas cuma satu tahun di sini. Di kelas 3 Aliyah saja.
Sebelumnya ia belajar di Pasuruan. Anaknya cerdas. Hanya
saja olah bahasanya kurang halus. Tapi pelan-pelan bisa
diperbaiki. Ia menyelesaikan S1 di Madinah dan sekarang
sedang menulis tesis masternya di Aligarh, India. Saat ini
ia sedang liburan. Tadi malam ia datang bersama
pamannya untuk melamarmu. Aku dan Ummimu tidak
langsung mungkin menerima atau menolaknya. Kami
akan memutuskan sesuai dengan apa yang kau putuskan."
"Kalau Abah sendiri kelihatannya bagaimana?"
"Abah sendiri tidak ada masalah. Selama yang datang
itu orang yang shalih dan berilmu itu saja. Dan Ilyas sudah
memenuhi kriteria itu. Selanjutnya tergantung kamu. Sebab
kamu yang akan menjalani. Kaulah yang menentukan siapa
pendamping hidupmu. Bukan Abah atau Ummimu."
Diam-diam dari hati yang paling dalam Anna merasa
sangat bersyukur memiliki orang tua yang sangat
penyabar, demokratis, dan sangat terbuka.
"Begini, Bah, saat ini saya juga sedang menerima
lamaran dari seorang yang baru saja menyelesaikan S2nya
di Cairo University." Anna membuka masalahnya.
15
"Coba ceritakan lebih detil!" Pinta Abahnya.
Ia lalu menceritakan tentang lamaran Furqan dengan
detil. Tentang siapa Furqan, aktivitas Furqan, prestasiprestasi
Furqan selama di Cairo, juga latar belakang
keluarga Furqan. Ia ceritakan semua yang ia tahu tentang
Furqan.
Kiai Lutfi hanya manggut-manggut saja mendengar
cerita putrinya yang sedemikian panjang lebar.
"Dia orang Jakarta asli?" Tanya Kiai Lutfi.
"Tidak tahu ayah. Tapi setahuku sejak kecil ia di
Jakarta, lalu kuliah di Cairo."
"Bisa bahasa Jawa?"
"Mungkin. Tapi ya sebatas memahami perkataan
dalam bahasa Jawa Bah."
"Furqan itu, seperti yang kau ceritakan banyak
memiliki kelebihan. Tapi jika dia nanti misalnya tinggal di
sini tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik, itu akan jadi
satu kelemahannya."
"Sebagaimana setiap manusia memiliki kelebihan
pasti kan juga memiliki kelemahan Bah."
"Yah, terserah bagaimana keputusan kamu. Siapa yang
kamu pilih? Furqan atau Ilyas? Abah minta salah satu dari
mereka ada yang kamu pilih. Jangan tidak ada yang kamu
pilih. Itu saja permintaan Abah dan Ummi padamu,
Nduk."
"Bah, untuk memilih salah satu di antara keduanya,
rasanya kita harus adil. Saya sudah pernah bertemu
dengan Furqan, tapi belum pernah bertemu Ilyas. Rasanya
kalau saya putuskan memilih Furqan misalnya itu tidak
adil."
Pak Kiai Lutfi faham.
"Baik. Itu gampang. Kebetulan besok pagi dia mau
mengisi acara pembekalan anak-anak kelas tiga Aliyah
16
yang akan meninggalkan pesantren ini. Kau akan aku
temukan dengannya."
Dan benar, hari berikutnya, Ilyas datang. Pakaiannya
rapi. Ia datang dengan mengendarai Honda Supra X. Kiai
Lutfi minta kepada Ilyas supaya masuk rumah sebelum
mengisi acara. Sesaat lamanya Kiai Lutfi mengajak Ilyas
berdiskusi beberapa masalah keumatan di ruang tamu.
Anna mendengarkan diskusi dari ruang tengah. Antara
ruang tengah dan ruang tamu disekat dengan kaca riben
hitam. Anna bisa melihat Ilyas dengan jelas, dan sebaliknya
Ilyas tidak bisa melihat Anna dengan jelas. Anna sudah
merasa cukup. Tapi tiba-tiba ayahnya bangkit masuk ruang
tengah dan memanggil namanya,
"Anna, minumannya mana?"
Terpaksa ia mengeluarkan minuman dan dua kaleng
biskuit. Ia bisa melihat Ilyas dengan lebih jelas. Ia tahu
Ilyas melirik wajahnya sekelebat. Setelah itu ia membandingkan
kelebihan dan kekurangan dua pemuda yang
melamarnya. Furqan dan Ilyas. Hatinya condong pada
Furqan, tapi masih ada sebersit keraguan. Ia masih belum
bisa memutuskan. Ia perlu orang lain yang bisa ia ajak
bicara dari hati ke hati.
Akhirnya ia memilih Nafisah, Ketua Pengurus
Pesantren Putri, yang ia rasa sudah sangat dekat dengannya
sebagai teman bermusyawarah. Ia menceritakan kebimbangannya
kepada Nafisah setelah ia mengambil janjinya agar
tidak membuka isi pembicaraan kepada siapa pun juga.
"Mbak punya foto Ustadz Furqan?" Tanya Nafisah
setelah mendengar semuanya.
"Ada." Jawab Anna seraya membuka diarynya.
"Ini fotonya." Lanjut Anna dengan menyodorkan
sekeping foto pada Nafisah.
Nafisah menerima foto itu dan mengamatinya dengan
seksama.
17
"Wah, tampan sekali Neng Anna. Jujur saja, kalau saya
yang disuruh memilih, saya pasti memilih Ustadz Furqan.
Sebab dia sudah selesai S2. Sementara Ustadz Ilyas belum.
Dia mahasiswa Mesir. Sementara Ustadz Ilyas mahasiswa
India. Kalau Ustadz Furqan kan setelah menikah bisa
melanjutkan S3 di Mesir sambil menunggui Neng Anna
menyelesaikan tesis. Jadi kalian bisa hidup bersama gitu
lho. Kalau Ustadz Ilyas kan susah. Bagaimana? Satu di
India, yang satu di Mesir? Terus ini Neng, terus terang,
saya pribadi pernah diajar oleh Ustadz Ilyas. Ada yang saya
kurang suka pada beliau?"
"Apa itu?"
"Saya takut ghibah Neng."
"Semoga tidak termasuk ghibah sebab ini niatnya sama
sekali bukan untuk ghibah. Lha kalau saya tidak tahu hal
itu bagaimana saya bisa menimbang Nafisah?"
"Baik, ini menurut saya pribadi lho Neng. Sikapnya
yang kurang saya sukai, Ustadz Ilyas agak kurang menjaga
pandangan pada para siswi ketika mengajar."
"Kan kalau mengajar memang boleh memandang
yang diajar."
"Tapi kan bisa lebih dijaga. Saya suka model Ustadz
Ramzi yang lulusan Syiria itu, beliau sangat menjaga
pandangan. Tapi sayangnya beliau sudah punya isteri."
Setelah berbincang-bincang cukup detail dengan
Nafisah, ia agak cenderung kepada Furqan. Tapi tetap
belum bisa memilih Furqan. Entah kenapa ia merasa tidak
mencintai mantan Ketua PPMI itu. Bahkan dalam hatinya
ada semacam ketidakcocokan dengan Furqan.
Menurutnya pola hidup Furqan terlalu berbeda
dengan mahasiswa yang lain. Dari orang-orang yang ia
percaya flat yang disewa Furqan sangat mewah, punya
mobil pribadi. Ke mana-mana selalu memakai mobil
pribadi. Dan tidak jarang sering menyendiri di hotel hanya
18
untuk menulis makalah. Meskipun ia tidak menyalahkan,
karena barangkali Furqan punya alasan. Tapi seperti itu
hukan cara hidup yang ia dambakan. Menurutnya itu
sudah berlebihan.
Tentang kebimbangannya ia sampaikan pada kedua
orang tuanya. Ayahnya diam, menyerahkan semuanya
pada Ummi. Umminya malah bertanya padanya,
"Jujurlah Nduk, adakah seseorang yang sebenarnya kau
damba. Dalam bahasa anak mudanya kau naksir
padanya?"
Ia menggelengkan kepala.
"Tapi pernahkan kau bertemu dengan seorang
pemuda yang sangat berkesan di hatimu?" Lanjut Sang
Ummi.
Ia diam.
"Cobalah ingat-ingat!"
"Ya ada Mi."
"Siapa dia?"
"Aku tak kenal dia Mi. Aku hanya kenal namanya."
"Namanya siapa?"
"Abdullah."
"Abdullah siapa?"
"Tak tahu Mi."
"Bagaimana kamu ini. Masak cuma kenal nama
depannya saja kamu sudah terkesan dengan pemuda itu.
Dia sekarang di mana?"
"Mungkin masih di Cairo Mi."
"Bisa kau lacak?"
"Tidak Mi."
"Kau sungguh aneh Nduk. Terkesan kok pada orang
tidak jelas."
"Kalau Ummi jadi Anna pasti juga akan terkesan."
19
Anna lalu menceritakan perjalanannya dengan temantemannya
ke Sayyeda Zaenab, Cairo. Saat itu ia belanja
kitab. Uangnya ia habiskan untuk beli kitab. Ia ingat kitab
yang ia beli adalah Lathaiful Ma'arif-nya Ibnu Rajab Al
Hanbali, Fatawa Mu'ashirah-nya Yusuf Al Qaradhawi,
Dhawabithul Mashlahah-nya Al Buthi, Al Qawaid Al
Fiqhiyyah-nya Ali An Nadawi, Ushulud Dakwah-nya Doktor
Abdul Karim Zaidan, Kitabul Kharraj-nya Imam Abu
Yusuf, Al Qamus-nya Fairuzabadi dan Syarhul Maqashidnya
Taftazani.
Ia pulang bersama Erna. Dompet Erna dicopet. Ia
teriak. Pencopet lari. Ia bergegas turun sambil mengejar
minta tolong pada orang-orang kalau kecopetan.
Pencopetnya hilang tak terkejar. Ia dan Erna tak ada uang
untuk pulang. Sama sekali. Di saat ia bingung ada seorang
pemuda naik taksi yang menolongnya memberi tumpangan
di belakang. Ia teringat kitab-kitabnya yang
tertinggal di bis. Pemuda itu minta sang sopir mengejar
bis. Akhirnya terkejar di Halte jalur ke Hay El Sabe dekat
Muraqib Nasr City.
Ia mendapatkan kembali kitabnya. Pemuda yang
menolongnya sangat santun. Dan sangat menjaga pandangan.
Ia sangat terkesan pada pemuda itu. Ia merasa sangat
ditolong saat itu. Entah kenapa ia sulit melupakan itu. Sulit
melupakan pemuda yang selalu menunduk itu. Dan saat
itu, ketika ditanya namanya cuma menjawab: "Abdullah."
"Anna sangat terkesan padanya, Mi."
"Yang seperti itu yang kau damba kira-kira?"
"Mungkin. Tapi jujur Anna suka pada pemuda itu."
"Tapi siapa dia dan di mana dia kau tidak tahu kan?"
"Iya."
"Itu namanya tidak jelas. Kalau menurut Ummi
pilihlah yang jelas." Tegas Umminya.
"Benar kata Ummimu Nduk." Abahnya menguatkan.
20
Namun ia belum bisa memutuskan. Dalam hati kecil
ia mengatakan jika pemuda yang menolongnya, yang baik
hatinya, dan sangat menjaga pandangan bernama
Abdullah itu datang melamarnya, maka ia akan langsung
mengatakan: "Iya!"
"Aduhai jikalau saja saat ini kau ada di sini Abdullah.
Jikalau saja kau menyampaikan lamaranmu kepadaku.
Jikalau saja kau utarakan ingin membangun rumah tangga
denganku. Aku pasti akan memilihmu, dari pada Ilyas atau
Furqan. Tapi, ah... di mana keberadaanmu di saat aku harus
memilih? Di mana...? Ah,..ya Rabbi ampuni hamba-Mu
yang lemah iman ini." Desis hatinya bimbang.
Saat ia bimbang dan ragu sms dari isteri Ustadz Mujab
terus datang berulang-ulang. Terakhir sms itu mengatakan,
"Kami sudah tidak enak sama Furqan. Cepatlah kau
putuskan. Kalau mau ya bilang mau. Kalau tidak ya tidak.
Supaya semua jadi enak. Terima kasih!"
Ana masih bimbang. Dalam hati kecilnya ada
Abdullah. Ia sendiri tidak tahu kenapa di sana ada
Abdullah. Ia ingin mengenyahkan Abdullah itu tapi tak
juga mau enyah.Ia tahu tak boleh ada siapapun di dalam
hatinya kecuali orang yang halal baginya. Tapi kenapa
muncul juga Abdullah. Seringkali ia rasakan munculnya
itu pelan dan halus sekali. Ia kembali membaca sms itu.
Gamang. Tapi harus ia putuskan. Ingin rasanya ia
putuskan untuk tidak menerima dua-duanya. Tapi ia juga
gamang. Sudah berapa kali ia mengabaikan lamaran yang
datang?
Ia baca lagi sms dari Cairo itu. Ia rasakan bagai sesuatu
yang menterorkan. Akhirnya dalam kegamangannya,
karena teror sms itu ia memutuskan untuk menerima
Furqan. Meskipun keputusan itu belum benar-benar bulat
di hatinya. Masih ada sebersit keraguan yang bercokol di
sana. Dan ia tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan
keraguan itu. Ia mencoba menghilangkannya dengan shalat
21
istikharah selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya
walaupun sebersit keraguan itu masih bercokol, ia tetap
memutuskan memilih Furqan bila dibandingkan dengan
Ilyas. Ia berusaha mantap meskipun masih ada kegamangan
yang menggelayut dalam batinnya.
Ia menyampaikan keputusannya pada Abah dan
Umminya. Mereka berdua menyambut dengan wajah
berseri-seri dan gembira. Lalu ia mengirim sms kepada
Mbak Zulfa di Cairo, isteri Ustadz Mujab. Isi smsnya itu
adalah pemberitahuan bahwa ia menerima lamaran Furqan
dan mohon disampaikan kepada Furqan secepatnya.
* * *
Anna tersadar dari lamunannya. Waktu terus berjalan.
Hari ini adalah hari yang akan menjadi bagian dari sejarah
hidupnya. Ia masih belum yakin bahwa ia siap menjadi
isteri Furqan. Ia tidak tahu kenapa sebersit rasa ragu masih
juga menyusup halus di dalam hatinya. Apakah sebenarnya
ia belum siap menikah? Ataukah ia masih kurang mengenal
Furqan sehingga hatinya belum benar-benar bisa bulat
seratus persen? Ataukah sebenarnya masih ada yang
mengganjal dalam hati Abah atau Umminya? Tapi setiap
kali ia bertanya pada mereka berdua, mereka menjawab
telah mantap. Abahnya malah dengan entengnya berkomentar,
"Bisa jadi keraguan itu datangnya dari setan yang tidak
menginginkan kebaikan pada ummat manusia."
Anna berdiri. Melangkah ke arah cermin dan
memandang wajahnya sendiri. Ia lalu berseru pada wajah
yang ada di cermin,
"Anna, Kau harus mantap! Kau tidak mungkin
mundur hanya karena keraguan yang tidak jelas dari mana
datangnya. Kalau kau mencari manusia yang sempurna,
kau tidak akan mendapatkannya di atas muka bumi ini!
Semua ummat manusia memiliki aib, kekurangan, salah
22
dan dosa-dosa! Tak ada yang sempurna. Anna, Kau harus
yakin keputusanmu adalah benar!"
"Neng Anna! Neng Anna!"
Itu suara Sri, khadimah1 yang sangat disayang
Umminya.
"Iya Ti, ada apa?"
"Dicari Mbak Nafisah. Katanya ada keperluan penting.
Dia menunggu di ruang tamu."
"Ya, suruh menunggu sebentar."
Anna melepas mukenanya. Ia merapikan rambut dan
jubah panjang yang dipakainya. Ia mengambil jilbab dari
almarinya. Mengenakannya. Bercermin sekilas lalu turun
menemui Nafisah.
"Maaf Neng mengganggu." Sapa Nafisah.
"Tidak kok. Ada apa ya Fis? Katanya penting?"
"Iya Neng. Kami mau minta bantuan Neng Anna
sedikit."
"Banyak juga tidak apa-apa kok selama aku mampu.
Apa itu?"
"Begini Neng. Anak kelas tiga Aliyah putra dan putri
punya kan acara besar..."
"Bedah buku kumpulan cerpen itu?" Potong Anna.
"Iya benar. Cuma kami ada sedikit masalah Neng."
"Masalah apa?"
"Rencananya yang menjadi pembandingnya kan Bu
Nila Kumalasari, M.Ed. Dosen Fakultas Tarbiah STAIN,
tapi mendadak beliau ada halangan. Ayah beliau di
Semarang sakit keras, dan sedang dirawat di RS. Roemani
Semarang. Beliau harus ke Semarang menunggui ayah
beliau. Jadi beliau tidak bisa."
1 Khadimah, artinya pembantu. Di dunia pesantren khadimah atau khadim
biasanya digunakan untuk menyebut santri yang mengabdikan diri membantu
urusan sehari-hari keluarga kyai.
23
"Sudah cari pengganti beliau?"
"Sudah, tapi nama-nama yang kami hubungi tidak
bisa Neng."
"Guru bahasa Indonesia kalian saja yang jadi pembanding."
"Beliau juga tidak bisa. Sebab beliau sudah ijin untuk
menghadiri pernikahan adiknya di Jogja."
"Ya sudah, tanpa pembanding saja. Biarkan pengarang
kumpulan cerpen itu jadi pembicara tunggal saja."
"Justru pengarangnya minta ada pembanding. Kami
tidak mau mengecewakan beliau. Kami sudah janji akan
menyandingkan dengan pembanding yang tepat. Dan
rasanya lebih seru kalau ada pembanding."
"Terus apa yang bisa aku bantu? Aku tidak punya link
orang-orang yang berkecimpung di bidang sastra."
"Begini Neng, karena waktu sudah mepet. Kami dari
panitia dengan sangat memohon Neng Anna bersedia
menjadi pembicara pembanding."
"Aku?"
"Iya Neng."
"Wah tidak bisa! Tidak bisa!"
"Kami mohon Neng!"
"Tidak bisa, Fis! Itu bukan bidangku."
"Iya kami tahu. Maka nanti Neng Anna tidak usah
bicara tentang sastra dan tetek bengeknya. Kami tidak minta
Neng Anna bicara tentang itu?"
"Terus aku bicara tentang apa?"
"Neng kan sarjana Syariah dari Al Azhar. Kami minta
Neng Anna menyoroti isi dan pesan yang terkandung
dalam kumpulan cerpen itu sudah sesuai dengan syariah
belum. Sesuai dengan ajaran Islam yang mulia tidak. Itu
saja. Tolong ya Neng. Kalau Neng Anna tidak mau kami
24
harus bagaimana lagi. Waktunya tinggal besok Neng."
Nafisah membujuk dengan nada mengiba.
Anna Althafunnisa diam sesaat. Keningnya berkerut.
la mengambil nafas agak panjang lalu mendesah. Bibirnya
yang indah itu bergetar lirih,
"Baiklah."
"Terima kasih Neng."
"Tapi aku minta segera kau bawakan kemari buku
kumpulan cerpen itu ya. Biar segera kubaca."
"Jangan khawatir Neng. Ini sudah aku bawakan."
Jawab Nafisah dengan wajah berbinar-binar bahagia. la
mengeluarkan buku ukuran sedang dari dalam lipatan
kitab Fathul Qarib. Rupanya buku kumpulan cerpen itu
ia selipkan di dalam kitab kuning yang memang lebih lebar.
Nafisah mengulurkan buku itu pada Anna. Anna menerima
dan memeriksa sampul buku itu dengan seksama. Judul
kumpulan cerpen itu adalah Menari Bersama Ombak.
Ditulis oleh Ayatul Husna. Diterbitkan oleh penerbit
terkenal di Jakarta. Ia buka halaman demi halaman.
"Wah baru empat bulan sudah cetakan ke-5, berarti
ini buku best seller ya Fis."
"Iya Neng. Saya membaca di koran penulisnya akan
menerima penghargaan dari Diknas Pusat bulan Agustus
nanti. Sebab buku ini terpilih sebagai buku kumpulan
cerpen remaja terbaik nasional."
"Wah jadi semangat nih. Jadi ingin bertemu penulisnya
nih."
"Ya, begitu Neng. Kami jadi tambah semangat."
"O ya Fis, aku ada satu permintaan lagi."
"Apa itu Neng?"
"Aku minta agar identitasku sebagai lulusan Al Azhar
tidak disebut-sebut. Aku minta agar namaku yang
digunakan dalam seminar besok nama penaku yaitu
25
Bintun Nahl. Sebut saja guru bahasa Arab, pernah nyantri
di Kudus dan Ciamis. Itu saja."
"Baik Neng, insya Allah kami penuhi."
Anna menatap kedua mata Nafisah memancarkan
sinar kebahagiaan. Dan di luar, sinar surya sudah
memancar menyinari alam, menebar kehangatan. Sinar
itu menyapa dengan ramah daun-daun padi yang masih
hijau, yang menghampar bagai permadani nan luas.
Burung-burung pipit beterbangan ke sana ke mari dengan
riang. Alam semakin hangat. Semakin benderang. Sinar
matahari pagi itu terus bergerak menerobos menyingkirkan
kegelapan.
Sinar matahari pagi itu juga menerobos sela-sela jendela
kamar Furqan di Hotel Lor Inn Solo. Furqan yang
menyibak perlahan tirai jendela kamarnya dengan wajah
pucat dan muram. Cerahnya pagi hari itu ternyata tak juga
sanggup mencerahkan batin, jiwa dan perasaannya. Ada
beban yang ia rasa sangat berat yang menekan jiwanya.
Itulah yang membuat dia muram di hari yang seharusnya
ia ceria.
Furqan memandang ke arah matahari. Ia berkata lirih
pada matahari,
"Apalah arti sinarmu, bagi orang yang semangat
hidupnya sudah redup dan nyaris mati!?"
Furqan menyibak jendela lebih lapang, berharap
dadanya bisa terasa lebih lapang. Wajah Anna Althafunnisa
berkelebat-kelebat dalam pikiran.
* * *
26
IKATAN BATIN
Sore itu dengan pembacaan surat Al Fatihah ikatan
pertunangan Anna Althafunnisa dengan Furqan resmi
sudah. Peristiwa itu disaksikan oleh tokoh-tokoh terpenting
dari dua keluarga, belasan Kiai pengasuh pesantren dan
para pemuka masyarakat desa Wangen.
Anna tampak anggun dengan dalam balutan jilbab dan
jubah panjangnya berwarna biru muda. Kecantikannya
dipuji oleh keluarga Furqan. Nyonya Maylaf, ibu Furqan,
yang tergolong wanita yang tidak mudah memuji
kecantikan orang lain, saat itu tidak mampu untuk
menahan pujiannya.
"Pa, calon menantu kita ini kecantikannya sungguh
alami ya." Bisik Bu Maylaf pada Pak Andi Hasan, suaminya.
Pak Andi Hasan mengangguk pelan.
Furqan tampak gagah dengan koko biru tuanya. Jika
disandingkan dengan Anna pastilah pakaian keduanya
27
2
akan tampak sangat serasi. Sore itu Furqan mampu
menyembunyikan segala muramnya.
"Padahal tidak ada kesepakatan kok baju Anna dan
Nak Furqan bisa serasi ya." Seru Kiai Lutfi Hakim, ayah
Anna Althafunnisa sambil tersenyum.
"Ini namanya benar-benar jodoh Pak Kiai." Sahut Bu
Maylaf.
"Sudah ada kontak batin yang memadukan, bukankah
begitu Fur?" Sambung Pak Andi Hasan sambil melirik
Furqan.
Furqan hanya tersenyum. Anna menunduk memandang
lantai. Kalimat-kalimat itu semakin meneguhkan
keyakinannya bahwa inilah sejarah hidupnya. Bahwa
Furqan adalah bagian dari sejarah masa depannya.
Sore itu juga disepakati hari, waktu, dan tempat akad
nikah. Setelah dialog penuh kehangatan tercapai
kesepakatan bahwa akad dan pesta walimah diadakan di
desa Wangen. Di Pesantren Daarul Quran. Sementara di
Jakarta hanya acara semacam syukuran yang akan
diadakan di sebuah hotel berbintang di bilangan Cikini.
Akad nikah akan dilangsungkan pada hari Jumat kedua
bulan Agustus. Lalu disambung walimah selama dua hari
yaitu, hari Sabtu dan Ahad.
Yang menarik sebelum hari akad dan walimah
disepakati, Anna Althafunnisa mengajukan syarat kepada
Furqan jika tetap ingin menikahinya. Syarat yang sempat
membuat perdebatan sengit antara Anna dan Furqan.
"Saya punya syarat yang syarat ini menjadi bagian dari
sahnya akad nikah. Artinya farji saya halal diantaranya jika
syarat saya ini dipenuhi oleh Mas Furqan." Kata Anna di
majelis musyawarah itu.
"Apa itu syaratnya?" Tanya Furqan.
"Pertama, setelah menikah saya harus tinggal di sini.
Saya tidak mau tinggal selain di lingkungan pesantren ini.
28
Kedua, saya mau dinikah dengan syarat selama saya hidup
dan saya masih bisa menunaikan kewajiban saya sebagai
isteri Mas Furqan tidak boleh menikah dengan perempuan
lain!" Dengan tegas Anna menjelaskan syarat yang
diinginkannya. Kalimat yang diucapkan itu cukup
membuat kaget Furqan dan keluarganya.
"Apa syarat-syarat itu tidak mengada-ada?" Kata Pak
Andi Hasan, ayah Furqan.
"Tidak. Sama sekali tidak. Para ulama sudah membahasnya
panjang lebar. Dan syarat yang saya ajukan ini
sah dan boleh." Jawab Anna. Pak Kiai Lutfi diam saja. Dia
percaya bahwa putrinya pasti bisa memperjuangkan apa
yang menjadi maslahat bagi masa depannya.
"Maaf, untuk syarat pertama saya rasa tidak ada
masalah. Itu sah dan boleh-boleh saja. Tapi untuk syarat
kedua, apa tidak berarti kamu mengharamkan poligami?"
Gugat Furqan.
"Mohon Mas Furqan melihat dan meneliti dengan
seksama, dibagian mana dan di teks mana saya mengharamkan
poligami yang dihalalkan oleh Al Quran. Tidak,
sama sekali saya tidak mengharamkan. Kalau Mas Furqan
menikah dengan selain saya, Mas mau menikahi langsung
empat wanita juga saya tak ada masalah. Itu hak Mas
Furqan. Syarat itu sama dengan syarat misalnya saya minta
setelah menikah Mas Furqan tidak makan Jengkol,
karena saya tidak suka. Jengkol itu bau. Baunya saya tidak
suka. Apa itu berarti saya mengharamkan Jengkol? Saya
meminta syarat untuk sesuatu yang menurut saya
bermanfaat bagi saya dan anak-anak saya. Dan dengan
syarat ini Mas Furqan sama sekali tidak dirugikan, sebab
saya mengatakan tidak boleh menikah dengan perempuan
lain selama saya hidup dan saya masih bisa
menunaikan kewajiban saya sebagai isteri. Kalau saya
sakit menahun dan tidak bisa menunaikan kewajiban saya
ya silakan menikah. Syarat yang seperti ini dibolehkan
29
oleh ulama." Anna beragumentasi membela syarat yang
diajukannya.
"Maaf saya belum pernah membaca ada ulama
membolehkan syarat seperti itu." Tukas Furqan.
"Baiklah. Tunggu sebentar!" Kata Anna. Gadis itu
masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah kitab. Pada
halaman yang ditandainya ia membukanya dan langsung
menyodorkannya pada Furqan,
"Ini juz 7 dari kitab Al Mughni karya Ibnu Qudamah,
silakan baca di halaman 93!"
Furqan menerima kitab itu lalu membaca pada bagian
yang diberi garis tipis dengan pensil oleh Anna. Saat
membaca kening Furqan berkerut. Ia lalu mendesah. Ia
diam sesaat. Wajahnya agak bingung.
"Jelas sekali, para ulama sepakat bahwa suatu syarat
yang menjadi sebab akad nikah terjadi harus dipenuhi.
Maka syarat saya tadi harus dipenuhi kalau ingin akad
nikah dengan saya terjadi. Selama syarat itu tidak
bertentangan dengan tujuan pernikahan dan tidak
menghilangkan maksud asli pernikahan. Saya tidak
mensyaratkan misalnya saya hanya boleh disentuh satu
tahun sekali. Tidak! Syarat ini bertentangan dengan
maksud pernikahan. Dan ulama juga banyak yang memilih
pendapat bahwa perempuan boleh mengajukan syarat
sebelum akad nikah bahwa suaminya tidak akan menikahi
perempuan lain. Dan sang suami wajib memenuhi syarat
itu selama dia menerima syarat itu ketika akad nikah.
Imam Ibnu Qudamah ketika berbicara tentang syarat
dalam nikah sebagaimana termaktub dalam kitab Al
Mughni yang Mas Furqan pegang itu berkata: 'Yang wajib
dipenuhi adalah syarat yang manfaat dan faidahnya
kembali kepada isteri. Misalnya sang suami tidak akan
mengeluarkannya dari rumahnya atau dari kampungnya,
tidak bepergian dengan membawanya atau tidak akan
30
menikah atasnya. Syarat seperti ini wajib ditepati oleh
suami untuk isteri, jika suami tidak menepati maka isteri
berhak minta dihapuskan nikahnya. Hal seperti ini
diriwayatkan dari Umar bin Khattab ra, dan Saad bin Abi
Waqqash, Mu'awiyah, dan Amru bin Ash ra. Hal ini juga
difatwakan oleh Umar bin Abdul Aziz, Jabir bin Zaid,
Thawus, Auzai dan Ishaq.'
Dan ayat yang meminta kita untuk memenuhi janji
adalah Al Maidah ayat 1, Allah berfirman, 'Hai orang-orang
yang beriman penuhilah janji-janji!" Dan dalam sebuah
hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw.
bersabda, 'Sesungguhnya syarat yang paling berhak untuk
kalian penuhi adalah syarat yang membuat suatu farji jadi
halal untuk kalian!'
Saya hanya ingin seperti Fatimah yang selama
hidupnya berumah tangga dengan Ali bin Abi Thalib tidak
dimadu oleh Ali. Dan saya ingin seperti Khadijah yang
selama hidupnya berumah tangga dengan Rasulullah juga
tidak dimadu. Sungguh saya sama sekali tidak mengharamkan
poligami. Tapi inilah syarat yang saya ajukan.
Jika diterima ya akad nikah bisa dirancang untuk
dilaksanakan. Jika tidak, ya tidak apa-apa. Silakan Mas
Furqan mencari perempuan lain yang mungkin tidak akan
mengajukan syarat apa-apa!" Papar Anna panjang lebar
Menghadapi argumentasi Anna, akhirnya Furqan dan
keluarganya menyerah. Mereka akhirnya menerima dua
syarat yang diajukan Anna Althafunnisa.
* * *
Sore itu juga berita telah resminya Anna Althafunnisa
putri Pengasuh Pesantren Daarul Quran bertunangan
dengan Furqan Andi Hasan dari Jakarta langsung menyebar
di seantero desa Wangen. Beberapa santri senior, beberapa
ustadz muda dan beberapa pemuda desa yang menaruh
hati dan harap menelan ludah kekecewaan. Impian mereka
31
bisa bersanding dengan putri Kiai Lutfi yang terkenal
cantik, cerdas dan shalihah itu hilang.
Seorang pemuda desa Wangen yang tidak bisa
menyembunyikan kekecewaannya berkata, "Aku kecewa
pada Pak Kiai. Kenapa Pak Kiai memilih calon menantu
dari Jakarta! Kenapa mesti Jakarta yang diutamakan?
Kenapa tidak memilih menantu orang sini saja. Menantu
yang sudah beliau kenal, dan sudah mengaji dan belajar
pada beliau sejak masih balita!"
"Masalahnya bukan orang Jakarta atau orang sini.
Bukan itu kukira. Aku yakin karena yang dipilih sekarang
ini adalah yang terbaik menurut Pak Kiai dan putrinya
yaitu Anna Althafunnisa. Kau boleh saja kecewa. Tapi jodoh
sudah ada yang menentukannya." Sahut pemuda yang
lebih tua.
* * *
Bu Maylaf belum mengganti gaun yang ia kenakan
dalam acara pertunangan putranya. Selepas maghrib ia
langsung mengajak Furqan jalan-jalan mengelilingi kota
Solo. Mereka hanya berdua. Pak Andi Hasan dan yang
lain memilih istirahat di hotel. Mobil Toyota Fortuner
berplat B itu melaju tenang di jalan Slamet Riyadi.
Jalan utama kota Solo itu lebar dan ramai. Di kanan
kiri berdiri bangunan-banguan metropolis; mall, hotel,
bank, butik, rumah makan, pusat elektronik dan lain
sebagainya. Meskipun bukan sebuah ibu kota provinsi,
Solo bisa disebut kota yang kesepuluh terbesar di
Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan,
Semarang, Makassar, Denpasar, Palembang, dan Jogyakarta.
Bu Maylaf minta Furqan menuju kraton.
"Aku ingin tahu suasana kraton dan Pasar Klewer di
malam hari." Gumam Bu Maylaf.
"Aku juga ingin, Bu." Sahut Furqan.
32
"Fur, kau bahagia?" Tanya Bu Maylaf sambil memandang
gurat wajah putranya yang tidak benar-benar cerah.
"Iya bahagialah Bu. Ibu ini ada-ada saja."
"Tapi ibu amati begitu pulang dari pesantren tadi
wajahku muram."
"Ah tidak. Ibu saja yang terlalu berperasaan."
"Tidak Anakku, ibu serius. Ibu amati kamu masih saja
murung. Sejak kamu pulang dari Cairo sampai sekarang
kamu kok sepertinya punya masalah serius? Apa kamu
sebenarnya tidak suka pada gadis itu? Merasa salah pilih?
Karena kamu sudah terlanjut melamar dia sejak di Cairo
dan terlanjur bilang sama ibu dan ayah, kamu jadi
menanggung beban, begitu?"
"Tidak ibu. Aku tidak ada masalah apa-apa kok. Aku
suka gadis itu dan sama sekali tidak salah pilih."
"Terus kenapa kamu muram seperti tertekan sesuatu?"
"Tidak ada kok Bu. Sungguh!"
"Fur, firasat seorang ibu pada anaknya tidak pernah
salah. Ibu tahu kamu sejak kamu lahir. Kalau kamu senang
ibu hafal wajah kamu. Kalau kamu marah, kamu kesal,
kamu kecewa, ibu hafal semua. Juga kalau kamu
memendam masalah. Ayo ceritakanlah pada ibu, Nak!"
Desak Bu Maylaf.
Mendengar kata-kata ibunya itu Furqan ingin
menangis, ingin rasanya meledakkan tangisan di
pangkuan ibunya sambil dielus-elus kepalanya seperti
saat masih kecil dulu. Ia ingin menceritakan musibah
yang menimpanya beberapa hari sebelum kepulangannya.
Tentang dirinya yang tanpa ia ketahui dosanya
digarap agen Mossad di Meridien Hotel. Tentang Miss
Italiana yang menghancurkan dirinya dengan virus HIV.
Tentang janjinya pada Kolonel Fuad untuk tidak
menyebarkan virus HIV yang diidapnya pada orang lain.
Dan kini ia telah bertunangan dengan Anna Althafunnisa.
33
Gadis terbaik yang pernah ia kenal dan ia ketahui.
Haruskah ia meneruskan sampai ke pelaminan?
Ia ingin mengungkapkan semua pada ibunya. Ia sangat
mencintai Anna, tapi ia tidak ingin merusak Anna. Ia tidak
tahu harus bagaimana?
Jika ia berterus terang pada ibunya, pada keluarganya.
Ia khawatir akan itu menyakit hati mereka berdua dan
merusak hidup mereka. Sebab ia tahu betapa sayang
mereka berdua padanya. Ia satu-satunya anak lelaki
mereka. Kakak dan adiknya perempuan. Ia tiga bersaudara.
Ia anak tengah. Kakaknya telah menikah dan kini
sedang hamil tua. Sementara adiknya hanya selesai D3 dan
tidak mau melanjutkan kuliah lagi. Ialah yang meraih
pendidikan tertinggi, maka ialah putra kebanggaan
keluarga. Apa jadinya jika ayah dan ibunya mengetahui
anak kebanggaan mereka mengidap virus HIV.
"Fur kenapa kamu diam!"
Teguran ibunya menyadarkan dirinya dari lamunan.
Ia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Ia
mencoba untuk menormalkan keadaan.
"Oh tidak Bu. Aku tidak memendam masalah. Aku
hanya tegang saja akhir-akhir ini. Tegang karena akan
punya isteri. Akan benar-benar hidup sendiri. Hidup
berumah tangga. Itu yang mungkin ibu lihat aku agak
muram. Hanya tegang mau hidup berumah tangga Bu."
Furqan menjawab diplomatis. Jawaban yang bisa
menutupi segala galau dan kacau yang terus menteror
perasaan dan jiwanya.
"O, begitu. Kalau itu ya memang biasa. Sebagian orang
yang akan berumah tangga mengalaminya. Ibu dulu juga
begitu. Tapi percayalah dengan berjalannya waktu semua
akan baik-baik saja. Membangun rumah tangga tidak
semenakutkan yang kau bayangkan. Dengan kerjasama
yang baik antara suami isteri nanti rumah tangga itu akan
34
sangat menyenangkan dan membahagiakan. Semoga
rumah tanggamu nanti kokoh dan barakah, Fur."
"Amin."
Malam itu mereka menikmati panorama malam di
kawasan kraton. Furqan minta ibunya menemaninya
minum wedang ronde di pojok barat alun-alun utara, tak
jauh dari masjid Agung.
"Wah wedang rondenya enak ya Fur."
"Iya Bu."
"Nanti kalau kau pengantin baru. Ajaklah Anna
minum wedang ronde di sini. Akan terasa sangat romantis
Fur. Setelah itu ajaklah jalan-jalan keliling kota. Lalu ajaklah
bermalam di hotel berbintang lima. Pasti itu akan membuat
Anna tambah berlipat cintanya padamu Fur." Kata Bu
Maylaf sambil tersenyum pada putra kesayangannya.
"Ah ibu, sudah membayangkan yang indah-indah."
"Ya, bayangkanlah yang indah-indah itu. Karena
memang yang indah-indah itu adalah hak para pengantin
baru. Saya dengar dari Pak Kiai yang mengajar di masjid
kita, bahwa Rasulullah meminta kepada pada pejaka agar
menyertai isterinya yang selama tujuh hari saat pengantin
baru. Jika isterinya itu seorang gadis. Tujuannya ya katanya
agar bisa mereguk keindahan-keindahan bersama sedalamdalamnya,
seromantis-romantisnya, agar cinta di antara
keduanya benar-benar berakar mendarah daging. Dan
dengan itu mawaddah dan rahmah lebih mudah tercipta."
"Wah ibu kayak Ustadzah saja."
"Lho, begini-begini kan ibu ini ibundanya Ustadz
Furqan, lulusan S2 Mesir."
Keduanya tersenyum. Sesaat wajah murung Furqan
hilang. Imajinasi keindahan berkelebat-kelebat dalam
pikirannya. Keanggunan Anna dalam balutan serba biru
kembali hadir di pelupuk matanya.
* * *
35
Sementara itu, di sebelah barat Kota Surakarta.
Tepatnya dalam rumah papan di sebuah kampung di
pinggir Kartasura, tampak tiga orang perempuan sedang
beraktifitas di ruang tamu yang sekaligus adalah ruang
tengah, ruang makan dan ruang kerja. Seorang perempuan
tampak sudah berumur. Kira-kira lima puluh tahunan.
Sedangkan dua perempuan lainnya masih muda.
Perempuan setengah baya itu sibuk bekerja di depan mesin
jahit tuanya. Ia sedang menjahit korden seorang pelanggannya.
Berkali-kali perempuan itu menjahit sambil terbatukbatuk.
Perempuan setengah baya itu tak lain adalah ibunda
Khairul Azzam. Namanya Ibu Malikatun Nafisah. Di
dukun Sraten ada yang memanggil Bu Lika. Ada yang
memanggil Bu Nafis dan Bu Isah. Panggilannya yang paling
lazim dan masyhur adalah Bu Nafis.
"Bue, jangan memaksakan diri tho. Kalau sudah capek
ya istirahat. Besok pagi dilanjutkan lagi. Nanti sakit lagi."
Ucap perempuan muda berjilbab cokelat sambil menghentikan
aktifitas membacanya. Perempuan berjilbab
coklat itu lalu bangkit dari tempat duduknya dan beranjak
menuju ibunya. Ia lalu memijit pundak ibunya yang masih
sesekali batuk dengan penuh kasih sayang.
"Ya keras sedikit Na. Ke arah tengkuk Na. Pegel
rasanya. Ini biar Bue teruskan sedikit lagi ya. Biar selesai
sekalian. Masalahnya ibu sudah janji besok pagi bisa
diambil. Kalau besok belum jadi terus yang pesan datang
kan mengecewakan." Lirih Sang Ibu sambil terus
melanjutkan pekerjaannya.
"Kalau Husna bisa menjahit, pasti Husna bantu. Biar
Bue istirahat saja. Bue kan sudah tua, tidak perlu memaksamaksakan
diri bekerja." Sahut perempuan berjilbab cokelat
itu sambil terus memijit Sang Ibu.
"Ah ini kegiatan ringan saja kok Na. Ya Bue kan perlu
kegiatan tho. Mosok nganggur. Ukh... ukh... ukh!" Kata
Sang Ibu sambil terbatuk-batuk.
36
"Dik Lia, maaf bisa nggak bantu Bue. Biar Bue istirahat
saja. Ini Bue sudah batuk terus!" Seru perempuan berjilbab
cokelat sambil menengok ke arah adiknya yang sedang
bergelut dengan tumpukan buku di kanan-kirinya.
"Aduh Mbak Husna, tidak bisa. Ini kerjaan sekolah
menumpuk. Malam ini harus beres. Bue sih, sudah
dibilangin tidak usah terima orderan, masih terus saja
terima. Bue tidak melihat kondisi diri sendiri. Kalau sakit
kan yang repot kita Bu. Anak-anaknya Bue." Jawab sang
adik sewot.
"Kalau tidak bisa ya sudah tho Dik, nggak perlu
ceramah." Sahut sang kakak.
"Mbak Husna tidak tahu sih, Lia ini lagi pusing plus
repot banget. Apa Mbak nggak lihat kerjaan Lia!
Setumpuk nih! Lia harus lembur malam ini Mbak. Kalau
luang pasti tanpa diminta juga sudah Lia bantu kerjaan
Bue." Timpal sang adik.
"Sudah-sudah! Bue yang salah. Bue terlalu memaksakan
diri. Husna, jangan ganggu adikmu. Dia kalau luang
seperti biasa, pasti sudah bantu Bue. Ya sudah, Bue istirahat
dulu. Besok habis subuh baru akan Bue lanjutkan. Tinggal
sedikit saja kok. Ukh... ukh!" Ucap sang ibu menengahi
sambil bangkit.
Perempuan berjilbab cokelat yang tak lain adalah
Ayatul Husna, mengantarkan ibunya ke kamarnya. Sampai
di kamar ia menunggu ibunya rebahan. Lalu menyelimutinya
dengan penuh kasih sayang.
"Ibu mau Husna buatkan jahe tambah madu hangat.
Biar badan ibu hangat dan segar?"
Sang ibu mengangguk.
Husna beranjak ke dapur.
Sang ibu merasakan keharuan luar biasa. Tanpa bisa
ia cegah air matanya meleleh membasahi pipinya.
Sedemikian sayang dan perhatian kedua putrinya itu pada
37
dirinya. Lirih ia menyampaikan rasa syukur sedalamdalamnya
kepada Allah atas karunia yang sangat mahal
ini. Meski ia membesarkan anak-anaknya tanpa didampingi
sang suami, namun Allah selalu menurunkan
pertolongannya. Keempat anaknya ia rasakan sangat
berbakti dan sangat mencintainya.
Anak pertamanya, Khairul Azzam, sejak kecil telah
menunjukkan baktinya. Prestasi-prestasinya mengharumkan
nama orang tua. Saat kuliah di Al Azhar, ia juga meraih
nilai sangat baik di tahun pertamanya. Dan ketika sang
ayah tiada, Azzam menunjukkan tanggung jawabnya
sebagai anak sulung dan satu-satunya anak lelakinya.
Azzam bekerja keras di Mesir sana. Ia tahu anaknya itu
bekerja dan berwirausaha dengan membuat bakso dan
tempe di sana. Tiap bulan mengirimkan uang demi
menghidupi dan menyekolahkan adik-adiknya. Sebagai
ibu, ia sangat bangga pada anak pertamanya itu. Di saat
sang ayah tiada dan ia sakit-sakitan, nama keluarga tetap
terjaga. Seluruh adik-adiknya tetap lanjut kuliah.
Ia jadi sangat merindukan Azzam. "Segeralah pulang
Nak. Bue sangat rindu padamu. Bue ingin tahu seperti apa
wajahmu. Seperti apa baumu. Bue ingin memelukmu."
Lirihnya dalam hati didera kerinduan dan keharuan luar biasa.
Anak keduanya, Ayatul Husna, sangat halus tutur
bahasanya. Dan sangat mencintainya. Husna seolah tidak
pernah rela ada nyamuk sekalipun menyentuh kulit
ibunya. Ia dulu pernah merasa Husna adalah anak yang
nakal. Ia ingat anak keduanya itu sewaktu kecil paling
sering bikin ulah. Paling sering berkelahi dengan anak
tetangga. Paling sering merebut mainan temannya. Dan
saat kelas tiga SMP justru ikutan karate sebagai kegiatan
ekstra kurikuler. Ia ingat bagaimana dulu Husna pernah
memukul kakaknya dengan gagang sapu sekeras-kerasnya.
Gara-garanya Husna disiram kakaknya karena sampai
pukul enam pagi belum juga bangun pagi.
38
"Anak perempuan kok kebluk!2 Kau ini sudah akil
baligh Na! Dosa kalau kau shalat subuh selalu kesiangan
apalagi tidak shalat subuh!" Seru kakaknya dengan nada
marah saat itu. Husna sangat marah diperlakukan seperti
itu oleh kakaknya. Ia bangkit lalu mengambil sapu. Dan
memukul kakaknya dengan sekeras-kerasnya menggunakan
gagang sapu. Sampai gagang sapu itu patah.
Husna memukul tepat di pelipis. Tak ayal, pelipis Azzam
berdarah.
Azzam tidak membalas. Azzam diam dengan amarah
yang meluap-luap. Oleh ayahnya Azzam dilarikan ke
dokter terdekat untuk diobati. Sang ayah lalu menghukum
Husna dengan menghajarnya. Tapi Husna melawan,
Husna malah memukul dan menendang sang ayah. Sang
ayah kalap, Husna nyaris dipatahkan tangannya oleh sang
ayah, tapi Azzam mencegah,
"Jangan ayah! Mungkin tadi Azzam yang salah. Azzam
terlalu keras pada Dik Husna."
Sang ayah mengurungkan niatnya. Akhirnya Husna
dihukum dengan diikat di dapur satu hari penuh. Husna
berontak tapi tidak bisa. Kenakalan dan kebengalan Husna
saat itu dikenal hampir oleh semua orang di kampung.
Namun kenakalan itu perlahan hilang sejak Husna
masuk SMA dan Azzam terbang ke Mesir. Husna berubah
seratus delapan puluh derajat sejak ayahnya meninggal
dunia. Sejak itu Husna disiplin mengenakan jilbab. Sangat
santun. Penyabar dan penyayang. Ia tahu bahwa di antara
yang punya andil mengubah Husna adalah kakaknya,
Azzam. Hampir setiap bulan sejak di Mesir Azzam selalu
mengirimkan surat ke Indonesia. Husna dan Lia mendapat
surat khusus.
Sekarang Husna, sudah selesai S1. Bahkan sudah selesai
sekolah profesinya sebagai psikolog. Ia sekarang dipercaya
2 Kebluk (jw.): Bangun kesiangan/tidur di waktu pagi sampai siang.
39
untuk menjadi nara sumber tetap rubrik psikologi remaja
di Radio Jaya Pemuda Muslim Indonesia (JPMI) Solo. Juga
mengajar di UNS sebagai asisten dosen.
Husna sekarang bukanlah Husna yang badung seperti
dahulu. Husna sekarang adalah bidadari yang sangat
penyabar dan penyayang. Sangat berhati-hati dalam
berbicara dan berperilaku. Tidak mau sedikitpun
menyakiti orang.
Anaknya yang nomor tiga adalah Lia. Lengkapnya Lia
Humaira. Sudah selesai D3 PGSD dan sekarang mengajar
di SDIT Al Kautsar di Kadipiro Solo. Sambil mengajar Lia
melanjutkan pendidikannya untuk meraih S1 di STAIN
Surakarta.
Lia lebih cantik dari kakaknya. Sudah ada beberapa
orang yang melamarnya, tapi Lia menolak. Ia ingin
kakaknya duluan menikah. Memang Lia lebih putih
kulitnya dibandingkan kakaknya, Husna. Sebenarnya tidak
putih, tapi kuning langsat. Karena itulah banyak orang
mengatakan Lia lebih cantik dari kakaknya. Namun
sebenarnya Husna tidak kalah cantik. Kulit Husna sawo
matang seperti kulit ayahnya. Azzam dan Husnalah yang
warna kulitnya mengikuti ayahnya. Sedangkan Lia dan si
bungsu berkulit kuning langsat seperti ia, ibunya.
Lia tidak kurang baktinya. Sebisa mungkin ia berusaha
menyenangkan hati ibu. Lialah yang paling sering pergi
ke Kudus untuk menengok si bungsu yang sedang belajar
di sebuah pesantren Al Quran di Kudus.
Perempuan setengah baya itu kembali batuk.
Ia teringat si bungsu. Sedang apa si kecil Sarah malam
ini. Apakah ia sedang mengaji? Ataukah masih belajar?
Ataukan sedang lelap dalam tidurnya. Jika teringat si kecil
Sarah ia sering tidak bisa menahan rasa haru. Anak itu
baru berusia sembilan tahun sekarang. Sudah satu tahun
ini dia di pesantren. Di pesantren Al Quran untuk anak-
40
anak. Ia laksanakan sesuai dengan wasiat sang ayah
beberapa bulan sebelum meninggal. Sang ayah berwasiat
agar anak bungsunya dimasukkan ke pesantren Al Quran
supaya hafal Al Quran.
Beberapa waktu yang lalu ia, Husna dan Lia mengantarkan
si kecil kembali ke pesantren setelah beberapa hari
liburan. Saat itu sudah hafal juz 27, 28, 29 dan 30. Si kecil
begitu bahagia diantar oleh ibu dan kakak-kakaknya. Dan
saat diajak rekreasi ke pantai Kartini sebelum ke pesantren
si kecil sempat berkata,
"Kalau ada Mas Azzam pasti lebih lengkap bahagianya
ya Bue."
Ia hanya menganggukkan kepala.
Ia jadi kembali teringat Azzam. Ia tidak bisa mengingkari
bahwa Husna bisa selesai S1, Lia bisa selesai D3 dan si
kecil Sarah bisa masuk pesantren adalah karena kerja keras
Azzam, putra sulungnya yang sampai saat ini belum juga
lulus kuliah di Al Azhar.
Perempuan itu meneteskan air mata kembali. Sebuah
doa ia panjatkan,
"Ya Allah mudahkanlah semua uruasan putraku
Azzam. Aku titipkan keselamatannya pada-Mu ya Allah.
Engkau Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah
berkahilah umur dan langkahnya ya Allah. Amin."
Ia mengatupkan pelupuk matanya dan menangis. Ibu
mana yang tidak menangis bila teringat anaknya yang
sudah sembilan tahun tidak dilihatnya. Anaknya yang
selama bertahun-tahun memeras keringat, darah dan air
mata untuk kesejahteraan adik-adiknya. Ibu mana tidak
menangis dan lunak hatinya.
"Bue menangis ya?"
Suara Husna menyadarkannya. Ia mengusap air
matanya lalu membuka pelupuk matanya.
"Ah tidak kok Na."
41
"Maafkan jika ada kata-kata Husna dan Lia yang tidak
berkenan bagi Bue ya."
"Tidak kok Na. Tidak ada yang salah dari kalian. Ibu
teringat kakakmu di Mesir dan adikmu di Kudus."
"O begitu. Husna kalau teringat Kak Azzam juga sering
menangis kok Bu. Ia kakak yang sedemikian baik pada
adik-adiknya. Insya Allah sebentar lagi Kak Azzam pulang
Bu."
"Kapan Na?"
"Semoga bulan Agustus nanti. Makanya Bue jaga
kesehatannya ya. Biar nanti pas Kak Azzam pulang kita
bisa jalan-jalan bersama. Kak Azzam pasti akan sangat
bahagia melihat ibu sehat dan ceria."
"Ya baik Na. Aku tidak sabar menunggu hari itu. Hari
anak lelakiku pulang. Aku juga ingin melihat dia nikah
dan punya anak. Aku ingin menggendong cucu."
"Ah Bue ini terus ke mana-mana. Ya semoga dikabulkan
Allah. Amin."
"Bue mau tidur. Sudah sana teruskanlah pekerjaanmu
Na."
"Baik Bu."
Husna kembali ke ruang tamu. Ia kembali membaca.
Ia harus menuntaskan buku yang dibacanya. Ia sedang
mencari pengkayaan bahan yang akan ia gunakan untuk
mengajar mata kuliah psikologi dasar di Universitas Negeri
Sebelas Maret Surakarta.
Ruang tamu itu senyap. Husna tenggelam dengan
bacaannya dan Lia berkutat dengan tugas-tugasnya. Di luar
puluhan jangkrik mendendangkan lagu malam. Bersahutsahutan
di tengah kegelapan.
Rumah sederhana itu terletak di sebuah dusun kecil
bernama Sraten. Sebuah dusun yang berada di desa
Pucangan, Kartasura. Letaknya di sebelah barat jalan raya
42
Solo-Jogja. Tak jauh dari markas Kopasus, Kandang
Menjangan, Kartasura.
Sebuah dusun yang damai. Sawah-sawahnya mulai
disulap jadi perumahan. Posisi dusun itu sebenarnya sangat
strategis. Terlelak tak jauh dari pusat peradaban dan budaya.
Tak jauh dari pusat belanja dan pendidikan. Transportasi
juga mudah. Dari jalan raya besar letaknya hanya ratusan
meter saja. Ke jalan raya bisa jalan kaki. Dari pasar
Kartasura bisa dikatakan dekat. Kira-kira dua kilo saja. Dari
kampus STAIN Surakarta juga dekat. Ke bandara juga
dekat. Ke kampus UMS tidak terlalu jauh. Ke pusat kota
Solo sangat mudah.
Dusun Sraten sebuah dusun di pinggir kota yang
sebenarnya sudah mulai hidup dengan cara kota. Tidak
lagi menggunakan cara dusun yang sebenarnya. Dusun
yang sudah tidak orisinil dan perawan kedusunannya.
Gadis-gadis dan para pemudanya tidak lagi lugu dan polos.
Sudah banyak yang bertingkah mengada-ada dan sok kota.
Sebagian mereka bahkan tidak mau dicap sebagai orang
desa. Mereka ingin dianggap sebagai orang kota.
Memang beberapa perumahan yang menjadi ciri
perubahan masyarakat dari desa ke kota sudah mulai hadir
di samping mereka. Di sebelah barat mereka telah berdiri
Perumahan Pucangan I. Di desa Pucangan sendiri sudah
banyak perumahan bermunculan. Perumahan-perumahan
itulah yang menghadirkan cara hidup ala kota. Dimulai
dari bentuk rumah dan cara interaksi penduduknya yang
tidak lagi cara desa.
Dua gadis itu masih larut dengan pekerjaannya di
ruang tengah ketika tiba-tiba pengeras suara dari masjid
Al Mannar mengumumkan kabar yang mengagetkan
seluruh penduduk Sraten,
"Inna lillahi wa irina ilaihi raaji'un. Ngaturi kawuningan
dumateng bapak saha ibu sekalian.3 Telah menghadap Allah
3 Memberitahukan kepada bapak dan ibu sekalian.
43
Swt. pada malam ini tepat jam sembilan malam lebih
sepuluh menit Bapak Haji Masykur ketua RW sekaligus
bendahara takmir masjid Al Mannar. Jenazah insya Allah
akan dikebumikan besok pagi jam sembilan pagi ..."
Husna dan Lia kaget.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un." Hampir bersamaan
mereka berdua membaca istirja'4. Dua perempuan
kakak beradik itu beradu pandang dengan wajah kaget.
"Kita takziah ke sana sekarang Mbak?"
" Terus Bue bagaimana?"
"Kita bangunkan saja. Kita ajak ke sana sekalian."
"Beliau kelelahan, Dik. Kasihan. Biar istirahat saja."
"Kalau begitu kita berdua ke sana."
"Sebaiknya ada yang di rumah nungguin Bue. Kalau
tiba-tiba Bue bangun dan mencari kita bagaimana? Nanti
bikin beliau bingung dan cemas. Biar aku saja ya yang ke
sana malam ini. Kalau selesaikan saja kerjaanmu itu. Besok
baru kau ke sana bersama Bue."
"Iya. Begitu juga baik Mbak. Apalagi kerjaanku ini
belum rampung juga."
"Kalau begitu Mbak pergi dulu ya Dik."
"Jangan lama-lama ya Mbak."
"Ya."
Husna membuka pintu dan melangkah ke arah masjid.
Lia menutup dan mengunci kembali pintu. Masjid itu
hanya seratus meter dari rumah Husna. Dan rumah Pak
Masykur tepat ada di belakang masjid. Di jalan Husna
bertemu Bu RT dan Pak RT yang juga bergegas ke rumah
duka.
"Bu RT, kayaknya Pak Masykur sehat-sehat saja tho
ya Bu? Tadi pagi saya ketemu beliau di warung Bu War.
4 Istirja' adalah kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raaji'un.
44
Malah beliau pakai sepeda dan sempat berbincang sebentar
dengan saya." Tanya Husna pada Bu RT.
"Iya. Tadi siang juga masih sehat. Masih jamaah di
masjid dan sempat mampir ke rumah menanyakan
persiapan kegiatan tujuhbelasan." Jawab Bu RT.
"Saya tadi menjelang Isya' dapat sms dari Pak Mahbub,
Ketua Takmir Masjid, kata beliau Pak Masykur kena
serangan jantung dan dilarikan ke Solo." Pak RT ikut
nimbrung.
"Ya itulah kematian, Dik Husna. Kematian itu misteri.
Kita tak tahu kapan datangnya. Tak bisa diajukan. Dan
jika sudah datang tak bisa diundurkan." Tukas Bu RT.
"Dan kematian bisa datang pada siapa saja. Tidak pilihpilih.
Lha Mbah Hadi sekarang umurnya sudah sembilan
puluh delapan. Tapi masih segar dan masih bisa ke masjid
sendirian meskipun pakai tongkat. Sementara bulan lalu
Si Jasman yang baru lulus SMA mati karena demam
berdarah." Pak RT menyambung lagi.
Husna diam mendengarkan. Kematian selalu menjadi
ibrah baginya. Karena satu sebuah kematianlah ia berubah.
Kematian ayahnya delapan tahun yang lalu menjadi
pelajaran yang tak mungkin terlupakan baginya. Pelajaran
yang menjadikannya mengenal dirinya sebagai manusia,
ciptaan Allah Azza wa Jalla.
"Itu Pak Mahbub sudah ada di sana." Gumam Pak RT.
Husna melihat sudah banyak orang di rumah duka.
Suasana terasa menyedihkan. Ia mendengar raungan tangis
Bu Masykur dan anak-anaknya.
"Pak jangan tinggalkan aku Paak...! Kasihan anak-anak
Paak...! Bagaimana nanti aku membesarkan mereka tanpa
Sampean Paak...!"
Bu Masykur terus meraung. Bu Mahbub yang tak lain
adalah kakak kandung Bu Masykur mencoba menenangkan
dan menghibur. Tapi usaha Bu Mahbub seperti tak
45
ada gunanya. Bu Masykur terus meraung. Husna tertegun.
Ia berhenti melangkah. Sementara Pak RT dan Bu RT terus
masuk ke rumah duka.
Husna jadi teringat saat ayahnya meninggal karena
kecelakaan. Ibunya sempat menangis meskipun tidak
setragis Bu Masykur. Ia sendiri menangis. Saat itu ia
menangis karena sedih dan menangis karena penyesalan.
Sebuah penyesalan yang sampai saat ini masih bercokol
di hatinya. Sebab ia merasa dirinyalah penyebab kematian
ayahnya.
Saat itu ia ngambek kabur dari rumah karena minta
dibelikan sepeda motor tapi tidak dibelikan. Ayahnya
berkata, "Nak, ayah tidak bisa beli sepeda motor baru.
Kalau kamu mau sekolah memakai sepeda motor pakailah
motor ayah. Biar ayah kerja pakai sepeda saja." Ia masih
ingat betul apa yang ia katakan pada ayahnya saat itu,
"Aduh Yah, gengsi dong. Masak Husna pakai sepeda
motor butut tahun tujuh puluhan begitu. Apa kata temanteman
Husna nanti. Baiklah, kalau ayah tidak mau
membelikan maka Husna akan minggat!"
Ayahnya tetap tidak membelikan. Karena memang
tidak punya uang. Ia lalu minggat. Pergi dari rumah. Tiga
hari ia tidak pulang ke rumah. Ia tidur numpang dari
rumah teman ke rumah teman yang lain. Rupanya ayah
dan ibunya bingung dan terus mencarinya. Hari ke empat
ia tidur di rumah temannya yang paling jauh. Rumahnya
di desa Begajah yang terletak di sebelah selatan kota
Sukoharjo.
Ayahnya mendapat informasi dari seorang temannya
bahwa ia ada di Begajah. Sore itu di tengah hujan deras,
dengan mengendarai sepeda motor butut, ayahnya
menyusulnya ke Begajah. Di tengah jalan, satu kilometer
sebelum masuk kota Sukoharjo sebuah mobil sedan
berkecepatan tinggi menabrak ayahnya dari depan.
Rupanya sopir mobil sedan itu sedang stres dan mabuk.
46
Ayahnya terpelanting sejauh lima belas meter dan tewas
seketika.
Saat diberi tahu ayahnya meninggal mulanya ia tidak
percaya. Dan setelah melihat sendiri jenazah ayahnya ia
menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Ia merasa menjadi
anak paling durhaka di dunia. Ia merasa ialah sebenarnya
yang menabrak ayahnya hingga terpelanting lima belas
meter dan tewas seketika. Ia sangat menyesal. Tapi
penyesalannya tidak akan pernah mengembalikan nyawa
ayahnya. Satu hal yang paling membuatnya semakin
menyesal adalah ketika ia tahu bahwa sang ayah siangnya
baru saja pinjam uang di bank untuk membayar uang muka
membeli sepeda motor baru. Ayahnya ingin menjemputnya
dan keesokan harinya akan diajak ke dealer agar ia sendiri
yang memilih kendaraan yang ia inginkan. Selanjutnya
ayah akan membayar setiap bulan dengan cara kredit. Ia
sangat menyesal. Betapa sebenarnya ayahnya sangat
mencintai dan menyayanginya. Dan ia merasakan itu ketika
ayahnya sudah meninggal dunia. Sejak itu ia berubah.
Air mata Husna meleleh. Ia teringat dosa-dosanya.
"Ya Allah ampunilah dosa hamba-Mu ini."
Ia mengatupkan kedua pelupuk matanya.
"Dik Husna, ayo masuk, jangan berdiri di kegelapan
sendirian begitu. Cobalah ikut menghibur Bu Masykur
dan anak-anaknya." Panggilan Bu RT membuatnya
tergagap sesaat. Ia mengusap lelehan air matanya.
Husna beranjak masuk. Bu Mahbub masih terus
menghibur adik kandungnya. Husna mendekati anakanak
Bu Masykur yang semuanya putri. Jumlah anak Pak
Masykur empat. Yaitu Zumrah, Zaimah, Zuhriah, dan
Zahrah. Husna hanya mendapati tiga dari mereka. Husna
tidak menemukan Zumrah.
Zaimah, Zuhriah dan Zahrah semuanya menangis
tersedu-sedu. Zaimah pingsan berkali-kali. Sementara si
47
bungsu Zahrah terus memanggil-manggil nama ayahnya.
Semuanya sudah dihibur para tetangga dan sanak saudara.
"Bu RT, saya kok tidak melihat Si Zumrah. Apa dia
belum diberi tahu kalau ayahnya meninggal?" Lirih Husna
bertanya pada Bu RT.
Bu RT mendekatkan mulutnya ke telinga Husna,
"Ssst! Kamu jangan membicarakan Zumrah. Sensitif.
Tadi saya tanya begitu sama Bu War. Ternyata Zumrah-lah
penyebab ayahnya kena serangan jantung. Menurut Bu
War tadi sore Zumrah pulang kuliah. Habis maghrib
katanya Zumrah cerita pada ayahnya sudah hamil. Dan
yang menghamili katanya pacarnya yang bukan seagama.
Dan katanya Zumrah sudah pindah agama. Zumrah
langsung diusir Pak Masykur. Seketika itulah Pak Masykur
jatuh kena serangan jantung."
"Astaghfirullah!" Desis Husna.
"Dan katanya Zumrah sedang diburu sama Si Mahrus
pamannya yang anggota Serse. Si Mahrus marah besar.
Katanya Zumrah mau didor!" Lanjut Bu RT sambil tetap
mendekatkan mulutnya pada telinga Husna.
"La haula wa laa quwwata illa billah! Harus dicegah
itu, jangan sampai hal itu terjadi Bu." Kata Husna setengah
berbisik,
"Karena itulah sekarang ini para pemuka sedang
musyawarah di rumah Pak Joyo. Pak RT sebentar lagi juga
mau ke sana!" Balas Bu RT.
Husna menghela nafas panjang. Gadis berjilbab cokelat
itu memejamkan mata. Ia merasakan betapa besar musibah
yang dirasakan Bu Masykur. Lebih-lebih jika anak sulungnya
itu benar-benar pindah agama, menjadi penyebab kematian
ayahnya, dan berakhir tragis di tangan pamannya sendiri
yang terkenal tegas dan tak kenal takut pada siapa.
Dalam hati Husna berharap bahwa semua yang ia
dengar tidak benar adanya. Ia tidak percaya bahwa Zumrah
48
yang sampai lulus SD menjadi teman mengajinya di masjid
sampai berbuat seperti itu. Zumrah yang oleh ayahnya
diharapkan akan menjadi isteri Azzam kakaknya jika sudah
pulang nanti. Ia belum bisa mempercayai apa yang baru
ia saja ia dengar. Ia berharap apa yang ia dengar sama sekali
tidak benar.
Bersambung.......
mjbookmaker by:
http://jowo.jw.lt

Belum Ada Tanggapan to “Ketika Cinta Bertasbih 2”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: